Ada yang salah di SG

Memulai perjalanan vakansi ke Singapore dengan diiringi badan sakit sakit karena PMS adalah sebuah kepahitan. Tetapi mengakhiri trip ini di hari terakhir dengan perasaan engga sabar untuk kembali ke rumah adalah hal yang sudah seharusnya saya pertanyakan.

Seselesainya kembali dari SG bulan Februari lalu, mulai engga berhenti overthinking. Pertama, karena Dismenorhea membuat badan gampang lelah dan sensitif, saya jadi engga enak banget sama Umil. Kedua, ada bagian dari diri saya yang nunjukin perasaan engga nyaman selama liburan, salah satunya gesture lebih excited saat pulang ke rumah. Kok bisa sih serela ini ninggalin liburannya? haha hal yang jarang banget terjadi.

Mengenyampingkan bahwa masih ada banyak hal-hal menarik yang tentunya sudah diharapkan selama liburan ini, -seperti betapa terpukaunya kami ngeliat kemajuan transportasi dan budaya tertib selama disana- akhirnya saya nemu berbagai konten yang ninggalin jejak feeling yang sama kaya saya. RELATE! ucap saya.

Sebagai orang yang suka banget sama hospitality, keramah tamahan adalah kesan yang bisa saya bawa pulang setiap kali selesai berkunjung di tempat berlibur, tapi hal ini mahal banget harganya di SG. Pernah suatu ketika saat pilah pilih cokelat di ABC, ada karyawannya yang ngebentak saya. Instead of nanya Ada yang bisa saya bantu, dia teriak “above, below same lah!” lalu dia pergi. Agak ngefreeze, soalnya saya butuh beberapa saat mencerna kata kata yang dia ucapkan dengan logat khasnya. Dan ya, sebagai orang melankolis rasanya benar benar pahit nerima perlakuan seperti itu haha.

Satu hal lagi, yang banyak orang setuju adalah karena Singapore adalah negara yang kecil dengan budaya serba cepat dan tertib, tinggal disini mungkin akan terasa seperti aktivitas monoton yang sama seperti gambaran dalam episode Squidville Spongebob Squarepents, dimana Squidward akhirnya tinggal di Tentacle Acres, perumahan mewah dengan segala fasilitas yang diidam idamkan, tetapi terasa membosankan, aktivitas harian yang sama, orang yang sama, tidak ada masalah berarti, hanya lifecycle yang sama sehari-hari.

Dari hal hal di atas, mungkin itu yang mempengaruhi kenapa perjalanan kemarin terasa kurang hidup. Dengan budget yang sama kalau next time ada pilihan mau ke SG lagi atau ke Bali, saya dengan yakin akan pilih Bali. Engga pernah bosan untuk kembali ke Bali dengan segala sunsetnya.

Eh tapi kalau ada band kesayangan yang hanya mampir di National Stadium, bolehlah dipikir pikir lagi.

Leave a Reply